Search

Type your search keyword, and press enter

Suatu Pesan

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja dan pekerjaan untuk keabadian.
By : Pramoedya Ananta Toer.

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat (Episode ke-VII)

Cek cek cek. Itu suara cicak. Oke ngaco.
Btw, ini sambungan dari games cerbung karya WIDY dengan tajuk Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat bagian ke-VII. Keren, kan, sudah bagian ke-VII aja. Besar harapan cerbung ini lulus sensor dan layak diperjual belikan. :p Hohohohoho.

Syukur-syukur kalau sampai ada production house yang mau mengangkat cerbung karya WIDY ini untuk dijadikan film. Hahahahahaha.

Aamiin.

Tak apa dong punya mimpi. Selagi mimpi itu geratis, bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang.

Lanjut, ini pembukaan malah kemana-mana. Sebelumnya gue mau review sedikit dari cerbung ini.

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat, ini berkisah tentang seorang pemuda berstatus mahasiswa yang sedang dimabuk asmara. Bertemu dengan sesosok gadis dambaannya di sebuah kafe. Perjumpaan dengan gadis pada kesekian kalinya di kafe yang sama membuat pemuda itu memberanikan diri untuk berkenalan, ia lelah menjadi pecinta dalam diam, penikmat tubuhnya dalam khayal, dan pemimpi dalam mimpi basahnya.

Akankah pemuda ini mendapatkan potongan hatinya -gadis yang ia kagumi di kafe- atau ia akan tetap menjadi pecinta dalam diam.

Dengan penulisan dan gaya pencerita dari empat orang calon pasangan kamu, cerbung ini akan membawamu untuk binggung menerka arah angin ceritanya. Iya, wong ini ditulis dengan keroyokan. Layaknya seonggok gula pasir tumpah di atas meja yang dikerubingi sesemutan. Sulit ditebak potongan gula terakhir akan dibawa oleh semut yang mana.

Kuy, yang penasaran. Markijut. Mari kita lanjut, baca bagian ke-VII dari Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat karya WIDY.


***

"Apaan sih lu, Ar? Berisik. Orang lagi tidur juga," keluh Agus begitu membukakan pintu kamar.

Yang ditanya hanya diam. Lalu, menyodorkan kunci motor.
"Maksudnya?" tanya Agus.

"Kebiasaan banget lu. Pintu rumah  nggak dikunci malah pintu kamar yang di kunci. Kunci motor juga lupa dicabut. Untung gue pulang kerja lebih cepat. Nggak lembur kayak biasa. Dodol amat, sih!"

Ya maaf, gue memang dodol, Ar. Gue nggak kayak lu. Gue nggak punya paras setampan lu. Gue nggak punya karir yang bagus kayak lu. Gampang deketin cewek. Gue mah apa atuh? Ya gue memang adik lu, tapi kita sangat beda. Gue cuma seorang Agus Suragus. Lu Januar Benuar yang hebat di segala bidang.

Gumam Agus dalam hatinya. Perih. Mengingat dirinya selama ini selalu berdiri di bawah bayang-bayang sang kakak.

"Woy. Malah bengong lagi! Btw, besok malam gue mau bawa pacar ke rumah. Mau gue kenalin ke Ibu karena hubungan kami mulai serius sekalian pamer juga ke lu. Hahahahaha"

“Oh, sorry deh,” kata Agus meminta maaf. “Iya, laen kali gue nggak ceroboh. Ya udah, lu besok bawa aja dia kemari. Kenapa bilang-bilang gue segala, Kampret? ”

Tiba-tiba Januar nyelonong masuk ke kamar Agus. Lalu mengajak ngobrol dan bertanya-tanya mengenai adiknya.

“Nah, justru itu. Lu sendiri gimana, udah punya pacar belum?” tanya Januar seakan-akan meledek Agus. “Dari lahir masa jomlo terus?” lanjutnya.

Apaan, sih, ini dia segala nanya-nanya kayak gitu? Gue mau tidur juga. Pamer banget mentang-mentang punya pacar. Agus membatin kesal.

“Belom,” jawab Agus terlalu jujur. “Lagian jodoh udah diatur ini. Nanti juga ada saatnya.” 

“Iya, sudah diatur memang. Tapi ya, lu carilah gebetan. Kalo nunggu doang mah nggak akan dapet,” ujar Januar seolah-olah pakar percintaan. Kemudian Januar memberikan beberapa tip untuk kenalan sama cewek dan mendapatkan gebetan.

Agus tidak acuh, ia hanya pura-pura mendengarkan dan membayangkan wajah kakaknya berubah menjadi bebek bertanduk kambing. Melihatnya, rasanya ingin menjerembabkan kepalanya ke dalam liang jamban biar dia cerewetnya sama jamban saja. Rasakan.

***

Berbicara mengenai gebetan, Agus jadi teringat kembali akan sosok gadis bernama Mei. Seorang wanita yang sedikit lagi statusnya menjadi gebetan. Tapi sayang, Mei tidak memberikan kontaknya.

“Oke. Terima kasih tipnya, Ar. Udah ya, gue mau tidur lagi,” potong Agus.
“Tar dulu, biar gue ceritain gimana kisah kami bisa pacaran.”

Kali ini, Agus mencoba mendengarkan. Tidak ada salahnya menyimak pengalaman seseorang, apalagi orang itu kakaknya sendiri.

Januar bercerita panjang lebar tentang kisah percintaannya. Dari mulai bertemu sampai jadian. Dari mulai Agus semangat mendengarkan sampai menjadi bosan.
Setelah bercerita, Januar bertanya kepada Agus, “Lucu, kan, gimana kisah gue dan dia bertemu? Hehe.”

Iya lucu kalau lu ngomong sama bokong gue “Ohehehe, iya lucu,” jawab Agus berpura-pura tertarik dengan cerita kakaknya.

Januar sebenarnya masih ingin bercerita panjang lebar, tetapi saat baru bicara beberapa kalimat, Agus langsung memotong, “Ya udah, lu besok bawa aja pokoknya. Biar sekalian ceritanya. Gue mau tidur lagi. Udah, yaaa.” Agus mendorong-dorong kakaknya, menyuruhnya keluar dari kamar.

Malam itu, Agus sulit memejamkan mata. Setiap kali matanya mulai terpejam, wajah cantik dan semua ingatan tentang Mei muncul. Agus mulai membatalkan rencana tidurnya, ia terbangun dan menepi ke sisi kasur. Melirik ke sudut kamar melihat ada gitar tua miliknya yang sudah lama tidak dimainkan. Agus kemudian memainkan gitar itu dengan satu dua kunci nada lagu Ayah.

Jreeeng... Mei... Di....ma..na.., kamu... ber... rada.... Aku... menangis seorang diri...

Mendengar suaranya sendiri dengan lantunan lirik yang ngaco, Agus tersenyum dengan jijik. Ia menyudahi bermain dan meletakan gitarnya kembali di sudut kamar. Kali ini berpindah ke meja belajar, menarik secarik kertas dari tengah buku tulisnya dan mengundang pensil di sudut meja belajar dengan genggaman tangangnya. Agus mulai mencoba menggambar sketsa wajah rembulan indah dari serorang Mei. Karena Agus tidak jago menggambar, ia bukannya menggambar wajah cantik Mei malah lebih mirip dengan bulatan telur dadar.

Agus pun meremas kertas itu dan melemparnya ke belakang. Agus mulai berpindah ke tempat tidurnya, tiduran sambil memeluk guling dan memaikan handphone yang sedang terbuka akun Twitter Mei. Mengelus guling sebelum memejamkan matanya dan kemudian Agus ketiduran.

***

Keesokan harinya, langit malam terlihat cerah. Rembulan malam tampak jelas menerangi jalan setapak. Kerlip bintang gemintang pun demikian, tampak terlhat jelas tidak tersaput oleh awan malam. Tidak ada awan yang menutupi cerahnya malam. Gemuruh mobil Januar terdengar jelas berhenti di depan rumah.

"Ayo turun, Sayang. Kita udah sampai rumahku. Ya, maaf kalau tidak cukup besar seperti rumahmu," ucap Januar sedikit malu-malu ketika melihat pacarnya yang juga malu-malu untuk keluar dari mobil.

“Ah, kamu apaan sih?! Segala bilang begitu. Hm... justru aku suka warna cat hijau rumahmu, King" balas pacarnya.

“King”, nama panggilan kesayangan untuk Januar. Karena Januar memiliki badan yang ceking. Sebuah panggilan kesayangan yang kreatif sekali. Apalagi jika pacarnya memanggil Januar dengan panggilan “Cek”.

“Cek. Cek. Tes. Satu. Dua. Tiga. Cek.”

"Yuk kita masuk ke rumahku. Akan kukenalkan kepada Ibu dan adikku," sambut Januar.

Begitu masuk rumah, Ibu Januar menyambut dengan sangat antusias. Mengajak makan malam bersama, menuangkan segelas air minum dan menyalakan ac ruang makan. Ya, meskipun itu hanya ibunya seorang. Karena ayah mereka sudah meninggal sejak Agus dan Januar masih duduk di bangku dasar.

Saat makanan sudah siap, anggota keluarga masih ada yang kurang. Ya, siapa lagi kalau bukan Agus yang mengurung diri seharian di kamar.

Januar pun segera menuju ke kamar adiknya. Januar mulai mengetuk pintu kamar Agus.

"Gus," teriaknya. Berulang kali memanggil tidak ada respons apa-apa. Lalu, dengan sangat terpaksa Januar membuka pintu kamar itu dengan perlahan.

Ngik. Seperti suara kuda kejepit.

Pintunya tidak terkunci. Ditemukan adiknya yang tertidur pulas. Memerhatikan keadaan sekitar tampak berantakan; buku-buku tergeletak di kasur, celana pendek kotor di atas televisi, bungkus biskuit yang tidak dibuang ke tempat sampah, dan laptop yang masih menyala mengeluarkan suara musik mellow. Kamar Agus lebih mirip gudang yang tidak terurus.

"Bangun, Gus!"

Agus masih terlelap. Januar mengelitiki kaki adiknya. Sehingga Agus pun terbangun dan kaget bukan main.

"Argghh! Ada apaan, sih?" tanya Agus. "Gue lagi pengin tidur, lagi males keluar kamar."

"Hari ini, kan, gue ngajak pacar ke rumah. Ayo makan malem bareng. Sekalian lu lihat cantiknya pacar gue. Ya, biar lu semakin termotivasi juga buat cari cewek cakep," ujar Januar songong.

"Males, ah. Ngantuk."

"Hargain gue sedikitlah sebagai kakak. Nggak enak juga sama Nyokap udah masak enak-enak."

"IYE. BAWEL!"

"Gue tunggu di depan!"

Dengan setengah hati si Agus pun keluar dari kamarnya. Kalau bukan karena masakan ibunya yang lezat itu, Agus takkan mau disuruh-suruh kakaknya.

Begitu Agus berjalan dan ingin duduk di meja makan dengan wajah yang masih mengantuk. Tetiba mata Agus langsung terbelalak bagai minum seember kopi ketika disapa oleh pacar Januar. Seakan takjub melihat pacar Januar, Agus tidak terkedip dan berhenti bernafas satu dua detik. Sekelumit pertanyaan mulai tergantung-gantung di dalam pikiran Agus.

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat
Cerbung Karya WIDY

6 komentar:

  1. Buat paragraf pembukanya, Amin :))

    Setelah gue baca ulang, memang bener apa kata Yoga.
    Karakter Agus di sini keliatan kesel banget sama kakaknya. Hahaaa sadis kalimat yg dalam hatinya.

    BalasHapus
  2. Wuidih. Sadis. Ada review-nya. Bener-bener minta difilmkan ini cerbung deh, Dar. Huahahahahahaha. Aku mau yang jadi Agus itu Josh Hutcherson aja. Trus yang jadi Januar itu Liam Hermsworth. Yang jadi Mei si Jennifer Lawrence. Judulnya Hunger Milshake Games *ini apa dah*

    Iya bener kata Wulan, disini Agusnya kelihatan kesel sama Januar. Keren, Dar. Karakter Darmanya dapet banget lewat dialognya ;)

    BalasHapus
  3. Ini ngapa yang komen anggotanya semua? :))

    BalasHapus
  4. yg unik itu bagian si agus membalas jawaban kakanya dari dalam hati, sadis :')

    BalasHapus
  5. Wah, ada short review di bagian awalnya. Analogi dengan seonggok gula pasir tumpah di atas meja yang dikerubungi semut-nya oke juga :)

    Jadi, yang ngetok pintu si kakaknya Agus. Duh, kalo ngomongin kakak adek emang ngga jauh-jauh dari yang namanya "banding-membandingkan", dimana biasanya sang kakak selalu unggul dari sang adik hehe. Hm, kelihatannya si Januar ini lebih populer ketimbang Agus, ya? Apakah itu berarti si Januar ektrovert sementara Agus introvert? Yin dan Yang. Just wondering.

    Kasihan, si Agus masih desperate ya belom dapet contact-nya si Mei, sampe nyanyi dan gambar aja serba salah :p Penjabaran suara batin Agus cocok untuk bumbu tensi ceritanya, apalagi mendekati akhir, ending-nya bikin penasaran...

    BalasHapus
  6. Gue pun berpikiran bahwa pacarnya si januar adalah mei....

    Salam kenal widy...

    BalasHapus